10 Penyebab Berat Badan Susah Turun padahal Sudah Diet

by joe han
0 comment

KOMPAS.com – Memiliki berat badan berlebih tentu kurang baik untuk kesehatan. Pasalnya, kegemukan dan obesitas dapat menimbulkan sejumlah komplikasi berbahaya.

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), berikut ini beberapa bahaya obesitas bagi kesehatan yang perlu diwaspadai:

  • Obesitas berisiko 2 kali lipat mengakibatkan terjadinya serangan jantung koroner, stroke, diabetes melitus (kencing manis), dan hpertensi (tekanan darah tinggi)
  • Obesitas berisiko 3 kali lipat terkena batu empedu
  • Obesitas berisiko mengakibatkan terjadinya sumbatan nafas ketika sedang tidur
  • Obesitas berisiko tinggi untuk mengakibatkan penyakit kanker, di mana pria berisiko tinggi menderita kanker usus besar dan kelenjar prostat, sedangkan wanita berisiko tinggi untuk menderita kanker payudara dan leher rahim
  • Obesitas berisiko meningkatkan lemak dalam darah dan asam urat
  • Obesitas dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kesuburan reproduksi

Menurunkan berat badan dan memiliki tubuh yang ideal dapat menjadi kunci untuk menghindarkan diri dari beragam bahaya kesehatan di atas.

Ada beragam teori dan obat diet yang bisa dicoba untuk mendapatkan berat badan ideal. Namun, pernahkah Anda mencoba mati-matian dalam menurunkan berat badan tetapi selalu gagal? Hal itu berkaitan erat dengan gaya hidup dan pola makan setiap hari.

Seseorang dapat menurunkan berat badan melalui diet terbatas kalori dan aktivitas fisik yang teratur. Namun, banyak faktor yang dapat mencegah penurunan berat badan.

Melansir berbagai sumber, berikut ini beragam penyebab badan susah turun yang mungkin terjadi:

1. Mengandalkan olahraga tanpa memperhatikan pola makan

Melansir Medical News Today, olahraga adalah cara efektif untuk membakar kalori.

Bagi siapa saja yang ingin menurunkan berat badan, sangat penting untuk mencapai defisit kalori. Ini melibatkan tubuh membakar lebih banyak kalori daripada yang diterima dari makanan.

Maka dari itu, untuk mendapatkan penurunan berat badan, seseorang perlu menggabungkan olahraga dengan mengonsumsi lebih sedikit kalori. Penelitian menunjukkan bahwa, tanpa perubahan yang cukup pada pola makan, olahraga saja tidak mungkin menyebabkan penurunan berat badan yang substansial bagi kebanyakan orang.

Seseorang mungkin bisa menurunkan berat badan dengan melakukan olahraga intensitas tinggi, tetapi hal itu tak akan berjalan efektif jika tidak dibarengi dengan pengaturan pola makan.

Olahraga berat bahkan sulit unuk menurunkan berat badan lebih dari 4,4 pon (2 kilogram). Tanpa pengurangan jumlah asupan kalori, sangat sulit bagi seseorang untuk menurunkan berat badan melalui olahraga. Sementara, penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung makan lebih banyak saat berolahraga secara teratur.

Hal ini dapat mempersulit mempertahankan defisit kalori dan menurunkan berat badan. Jadi, cara terbaik untuk menurunkan berat badan adalah dengan menggabungkan olahraga dengan diet rendah kalori.

2. Menjalani diet tanpa bukti ilmiah

Banyak diet “iseng” tidak didasarkan pada bukti ilmiah dan dapat menjadi kontraproduktif untuk menurunkan berat badan. Banyaknya uang yang dihasilkan orang dengan membuat diet penurunan berat badan telah menghasilkan variasi yang luar biasa.

Banyak dari diet sangat ketat malah dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan. Ada kemungkinan beberapa diet ketat, seperti diet Atkins dapat menghasilkan penurunan berat badan. Tetapi dalam banyak kasus, penurunan berat badan ini disebabkan oleh hilangnya air dan otot, bukan lemak.

Diet Atkins adalah diet rendah karbohidrat yang menyarankan orang-orang lebih banyak mengonsumsi protein dan lemak untuk memberikan energi sehari-sehari. Selain itu, diet Atkins sulit untuk dipertahankan dan kebanyakan orang malah mendapatkan kembali berat badan yang turun tidak lama setelah menghentikan diet.

Padahal, makanan yang paling efektif dan sehat adalah makanan yang memiliki banyak variasi dan mengandung gizi seimbang. Mengonsumsi lebih sedikit kalori memang penting, tetapi hal ini tidak boleh terjadi karena adanya pembatasan yang ekstrem pada kelompok makanan pokok mana pun.

3. Melakukan olahraga kurang tepat

Olahraga untuk menurunkan berat badan adalah olahraga yang teratur.

Sebuah studi di jurnal Medicine & Science in Sports & Exercise menyarankan setidaknya 225 hingga 420 menit aktivitas fisik per minggu dapat menurunkan berat badan secara efektif. Penting untuk mempertahankan level ini aktivitas fisik tersebut dalam waktu yang lama.

Melakukan berbagai jenis olahraga juga dapat memengaruhi penurunan berat badan. Secara garis besar ada dua jenis olahraga yang bisa dilakukan untuk menurunkan berat badan, yakni olahraga aerobik dan dan anaerobik.

Olahraga aerobik atau ketahanan, melibatkan penggunaan kelompok otot besar secara terus menerus dan berulang, seperti lengan dan kaki. Contoh olahraga aerobik, misalnya jogging dan bersepeda.

Sementara, olahraga anaerobik melibatkan aktivitas yang singkat dan intens. Contoh olahraga anaerobik, yakni angkat besi atau lari cepat.

Perbedaan lain dari dua jenis olehraha tersebut, yaitu olahraga aerobik mengandalkan suplai oksigen untuk energi secara terus menerus, sedangkan anaerobik menerima semua energinya dari glukosa yang disimpan di otot. Kedua bentuk olahraga ini memiliki beberapa keuntungan untuk kesehatan secara keseluruhan, tetapi ada perdebatan mengenai mana yang paling berguna untuk menurunkan berat badan.

Menurut American College of Sports Medicine, latihan aerobik memiliki efek langsung pada penurunan berat badan, sedangkan olahraga anaerobik tidak demikian. Olahraga anaerobik dapat membangun otot dan membakar lemak, tetapi karena otot lebih berat daripada lemak, tidak akan ada penurunan berat badan.

Namun, olahraga anaerobik dapat mengubah lemak tubuh menjadi otot tanpa lemak. Karena otot lebih berat daripada lemak, ini mungkin menjelaskan kurangnya penurunan berat badan dari latihan anaerobik. Kombinasi antara olahraga aerobik dan anaerobik kemungkinan adalah metode olahraga terbaik untuk menurunkan berat badan.

4. Masih minum minuman manis

Mengonsumsi terlalu banyak minuman manis dapat mencegah penurunan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah gula dalam makanan dapat memengaruhi penambahan berat badan. Banyak dari hal ini secara khusus terkait dengan konsumsi minuman manis.

Tidak seperti berbagai makanan tinggi kalori, minuman manis tidak memuaskan rasa lapar dan tidak memberikan energi yang cukup bagi tubuh.

Hal ini dapat membuat Anda lebih mudah mengonsumsi terlalu banyak minuman manis tanpa menyadarinya. Penelitian menunjukkan bahwa minuman manis dapat berperan dalam obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Membatasi atau menghilangkan konsumsi minuman manis dapat membantu meningkatkan penurunan berat badan.

5. Kurang tidur

Kualitas buruk atau kurang tidur dapat memengaruhi penurunan berat badan. Sebuat studi menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.

Kurang tidur juga dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur rasa lapar. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan rasa lapar jadi terganggu. Alhasil, seseorang bisa saja menjadi lebih sering makan ketika kurang tidur.

Jadi, berusahalah untuk cukup tidur. Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa berusia 18-65 tahun harus tidur selama 7-9 jam setiap malam.

Sementara, orang dewasa yang lebih tua harus menargetkan tidur 7–8 jam setiap malam.

6. Alami stres

Stres juga bisa mengambat upaya penurunan berat badan. Stres disinyalir dapat mendorong tubuh memproduksi hormon kartisol lebih banyak.

Hormon kartisol salah satunya dapat merangsang rasa lapar dan meningkatkan nafsu makan. Jika Anda tak bisa mengatur stres dan pola makan, maka penurunan berat badan jelas sulit dicapai.

7. Konsumsi alkohol

Minum terlalu banyak alkohol dapat mencegah penurunan berat badan, karena tinggi kalori. Misalnya, bir 12 ons dapat mengandung sekitar 153 kalori, dan segelas anggur merah rata-rata mengandung 125 kalori.

Minum 4 bir di malam hari dapat meningkatkan asupan kalori harian tubuh sebesar 612 kalori. Jadi, cobalah untuk berhenti minum alkohol untuk mendukung upaya penurunan berat badan.

8. Memberi jeda makan terlalu lama

Melansir WebMD, banyak orang berpikir bahwa dengan mengulur waktu makan bisa menurunkan berat badan. Orang-orang berpikir tubuh akan membakar cadangan lemak di tubuh menjadi energi ketika lapar datang.

Padahal, salah satu hal yang bisa terjadi ketika seseorang memberi jeda terlalu lama antarwaktu makan adalah metabolisme tubuh menjadi melambat. Kondisi ini dapat mengakibatkan sistem tubuh tidak bisa membakar semua kalori yang masuk saat makan.

Semua ekstra kalori itu alhasil dapat menambah berat badan. Seseorang juga jadi cenderung makan dengan porsi yang lebih banyak karena terlalu lapar setelah memberi jeda waktu makan yang panjang. Jadi, cobalah makan dengan porsi kecil dan jeda waktu yang lebih sering untuk mendukung program diet.

9. Makan terlalu cepat

Orang yang makan terlalu cepat cenderung akan mudah merasa lapar. Hal tersebut terjadi karena otak tak memiliki waktu untuk mengirim sinyal yang membuat seseorang merasa lebih kenyang. Dengan begitu, bagi Anda yang memiliki masalah berat badan, dianjurkan untuk mengunyah makanan dengan baik.

Melansir buku 1001 Makanan Sehat (2015) karya Tim Navitri, pada waktu seseorang makan secara perlahan, otak akan mengirim sinyal yang membuat mereka merasa lebih kenyang. Hal itu akan mengurangi dorongan untuk makan secara berlebihan. Sementara dalam pandangan lain diterangkan, saat seseorang mengunyah makanan di dalam mulut, kadar gula darah akan meningkat.

Meningkatkan kadar gula darah itu kemudian akan menahan nafsu makan yang berlebihan. Jadi, semakin lama mengunyah makanan di dalam mulut, maka Anda akan merasa kenyang lebih lama. Selain itu, mengunyah makanan dengan baik dapat pula membantu tubuh membunuh parasit yang berada di dalam makanan, seperti ikan, kerang, daging, dan lain-lain.

10. Faktor genetik

Faktor genetik atau keturunan dapat membuat seseorang yang menderita obesitas sulit menurunkan berat badan. Meski demikian, sebagian besar kegemukan tetap saja diakibatkan oleh pola makan yang tidak sehat serta gaya hidup yang salah.

Faktanya, sangat jarang kejadian kegemukan yang seluruhnya disebabkan oleh faktor genetik. Jadi, Anda yang merasa mengalami kegemukan karena faktor genetik, sangat dianjurkan untuk melakukan upaya penurunan berat badan dengan memperbaiki pola makan dan gaya hidup.

Para ahli menyatakan bahwa riwayat keluarga dan faktor genetik, tidak akan cukup membuat badan gemuk hingga obesitas. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa faktor genetik hanya memiliki risiko yang kecil untuk membuat seseorang mengalami obesitas. Lingkungan serta makanan yang dikonsumsi sehari-hari pada kenyatannya punya dampak yang lebih besar dalam membuat berat badan berlebihan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “10 Penyebab Berat Badan Susah Turun padahal Sudah Diet”, Klik untuk baca: https://health.kompas.com/read/2020/08/08/121102768/10-penyebab-berat-badan-susah-turun-padahal-sudah-diet?page=all#page2.
Penulis : Irawan Sapto Adhi
Editor : Irawan Sapto Adhi

You may also like

Leave a Comment