Isyarat dari Lambung dan Usus

by joe han
0 comment

Di Jepang, terdapat sebuah konsep bahwa secara harfiah Anda dapat membaca kualitas hidup seseorang dari raut wajah orang tersebut.

Sama halnya raut wajah seseorang dapat menjadi baik atau buruk tergantung pengalaman dan keadaan pikiran seseorang, lambung dan usus juga memiliki karakteristik baik dan buruk yang mencerminkan kondisi kesehatan seseorang.

Karakteristik lambung dan usus seseorang yang sehat sangatlah bersih.

Lambung yang sehat memiliki selaput lendir berwarna merah jambu seluruhnya tanpa ada tonjolan-tonjolan ataupun abnormalitas di permukaannya, dan pembuluh-pembuluh darah di bawah mukusnya tidak terlihat.

Mukus seseorang yang sehat transparan, permukaannya tampak berkilau saat memantulkan cahaya dari endoskop.

Usus orang sehat berwarna merah jambu, sangat empuk dan memiliki lipatan-lipatan yang besar dan seragam.

Semua orang memiliki karakteristik lambung dan usus yang bersih saat kanak-kanak, tetapi karakter itu berubah bergantung pada makanan dan gaya hidup sehari-hari orang tersebut.

Sebaliknya, lambung orang yang tidak sehat tampak berbintik-bintik dan di beberapa bagian berwarna merah dan membengkak.

Terlebih lagi, jika lambung menderita radang selaput mukus kronis, lapisan lambung menjadi tipis dan pembuluh-pembuluh darah terlihat di bawah selaput lendir.

Apabila mukosa lambung mulai mengalami penyusutan, sel-sel permukaan berusaha untuk mengompensasinya dengan melipatgandakan diri di berbagai tempat dan menyebabkan dinding lambung menjadi bertonjolan.

Kondisi ini hanya satu langkah sebelum timbulnya kanker.

Dalam usus yang tidak sehat, otot-otot dinding usus menjadi tebal dan kaku, timbul lipatan-lipatan yang tidak merata sehingga menyebabkan penyempitan di berbagai tempat, seolah-olah ada karet gelang yang mengikatnya.

Para penderita “penyakit dorman” yang belum merasakan sakit atau adanya keluhan fisik, mungkin tidak termotivasi untuk mengurangi konsumsi daging.

Alasannya mungkin juga karena mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi dalam perut mereka sendiri.

Orang-orang cenderung berpikir bahwa kecuali jika mereka merasa sangat kesakitan di bagian perut, segalanya tentu baik-baik saja di sana.

Tidak ada yang dilakukan untuk merawat bagian dalam lambung dan usus saat kondisi keduanya terus menurun.

Padahal perubahan-perubahan internal berkaitan langsung dengan kesehatan seseorang secara keseluruhan.

Alasan terbesar mengonsumsi daging dapat merusak usus kita adalah karena daging tidak mengandung serat makanan yang cukup, tetapi mengandung lemak dan kolesterol dalam jumlah besar.

Asupan daging berlebih menyebabkan dinding usus besar sedikit demi sedikit menjadi semakin tebal dan kaku.

Kurangnya serat makanan dalam daging menyebabkan kotoran di dalam usus besar berkurang sehingga usus besar bekerja lebih keras daripada biasanya untuk mengeluarkan sedikit kotoran tersebut dengan gerakan peristaltik.

Gerak peristaltik yang berlebihan menyebabkan otot-otot dinding usus menjadi semakin tebal dan besar sehingga usus besar menjadi lebih kaku dan lebih pendek.

Sementara dinding-dinding usus besar menebal, lumen (rongga usus besar) menyempit.

Pada saat lemak dalam jumlah besar diserap bersama protein hewani, lapisan lemak di sekeliling usus besar juga menebal sehingga menambah tekanan pada dinding usus.

Dengan meningkatnya tekanan internal di dalam usus besar, selaput mukus terdorong keluar dari dalam dan membentuk rongga-rongga mirip kantung yang disebut “divertikula” dalam kondisi yang disebut “divertikulosis”.

Pada tahap ini, kotoran yang biasanya hanya sedikit itu menjadi semakin sulit didorong keluar dari usus besar.

Hasilnya, usus besar mengumpulkan kotoran stagnan (tinja terperangkap) yang terus berdiam di dalam usus besar dalam waktu yang lama.

Kotoran stagnan itu terkumpul seolah-olah menempel pada dinding usus besar dan digabung dengan divertukulosis, kotoran stagnan tersebut masuk ke rongga-rongga mirip kantung tersebut hingga menyebabkan ekskresi menjadi semakin sulit dilaksanakan.

Kotoran stagnan yang terkumpul dalam divertikula, atau lipatan-lipatan menghasilkan racun yang menyebabkan mutasi genetis sel-sel di area tersebut dan menimbulkan polip.

Polip-polip itu terus bertumbuh dan kemudian berubah menjadi kanker.

Penurunan kondisi usus seperti itu mengakibatkan tidak hanya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, polip di usus besar dan divertikulosis.

Banyak orang yang memiliki usus tidak sehat kemudian menderita berbagai penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, seperti tumor fibroid, tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah, penyakit jantung, obesitas, kanker payudara, kanker prostat dan diabetes.

Jika saluran pencernaan tidak sehat, secara perlahan tubuh Anda dilemahkan dari dalam.

(Tulisan ini di sadur dari buku The Miracle of Enzyme, karya Hiromi Shinya, MD – Guru Besar Kedokteran Albert Einstein College of Medicine, AS)

You may also like

Leave a Comment