Mengapa Manusia Purba Kekar Berotot dan Manusia Modern Lembek Seperti Tahu?

by nataliussen
0 comment

Secara biologis, tubuh kita memiliki lebih banyak sistem yang mendukung penambahan berat badan dari pada pengurangan bobot.

Pada zaman dahulu, nenek moyang manusia bertahan hidup dengan menambah dan menimbun berat badan untuk melewati masa paceklik.

Hal ini yang membuat tubuh kita cenderung menyimpan lemak dan menggemukkan diri.

Ketika mengalami evolusi demi evolusi, tubuh manusia menciptakan sistem-sistem dan perilaku untuk mempertahankan diri ketika memasuki masa kekeringan dan kegiatan berburu menjadi sulit.

Pada zaman itu, konsumsi manusia terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, umbi-umbian, dan daging binatang liar.

Mereka menikmati rasa manis dari buah-buahan dan madu.

Ada perbedaan antara kenikmatan yang kita peroleh saat ini dengan mereka yang hidup pada zaman itu.

Manusia purba hanya mengonsumsi makanan manis pada saat-saat tertentu karena bukan kebiasaan mereka membawa segenggam permen manis berkalori kemana pun mereka pergi.

Definisi “mencari makanan” nenek moyang kita meliputi berjalan kaki, berlari dan melompat, bukan membuka kulkas menemukan sepotong kue tar.

Diperlukan banyak upaya untuk mendapatkan makanan sehingga lemak-lemak tubuh terbakar secara natural melalui aktivitas fisik berburu dan mengumpulkan hasil alam.

Garam dan gula adalah barang langka pada zaman itu sehingga mereka lebih banyak menyantap biji-bijian, sayuran dan daging yang memberi asupan protein, vitamin, mineral dan asam-asam lemak yang membantu mereka tumbuh tinggi dan menambah massa otot.

Makanan yang mereka konsumsi selalu segar karena belum ada makanan kalengan dan lemari pendingin yang bisa digunakan untuk menumpuk persediaan makanan.

Perbedaan lainnya adalah daging yang dikonsumsi nenek moyang kita tidak sama dengan daging yang kita makan sekarang.

Pada masa lalu, daging yang mereka konsumsi memiliki kadar lemak rendah dan berprotein tinggi.

Hewan liar pada masa lalu memiliki lemak sekitar empat persen, sementara daging sapi komersil di era modern ini mengandung lemak sembilan kali lipatnya.

Kemunduran manusia dimulai pada masa pra-Keemasan Arkeologi yang berlangsung kira-kira 10.000 ribu tahun lalu ketika agrikultur ditemukan untuk pertama kali.

Perkembangan agrikultur membuat manusia mampu menciptakan kemajuan-kemajuan dalam banyak bidang, termasuk persediaan makanan yang berlimpah.

Dengan sumber makanan yang stabil, manusia mulai menghentikan kebiasaan berpindah tempat (nomaden) dan muncullah komunitas-komunitas yang hidup berdekatan.

Kemunculan agrikultur pula yang mengawali peralihan sosiologis yang mempengaruhi cara hidup dan pola makan manusia hingga hari ini.

Kini kita bisa memproduksi makanan, menyediakan apa saja yang kita inginkan, bukan yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh.

Kita tidak saja mampu membuat produk yang menggugah selera dan ramah pada lidah, namun tidak baik bagi lingkar pinggang.

Hal tersebut telah mengalihkan keputusan-keputusan yang semula berdasarkan kebutuhan biologis menjadi reaksi psikologis.

Mengontrol lemak tubuh bukan berarti menjalani hukuman memakan brokoli seumur hidup, melainkan mengajarkan tubuh untuk mengadopsi pola makan nenek moyang kita yang alami dan gaya hidup yang aktif bergerak.

Sumber : Nataliussen (www.papiluz.com)

You may also like

Leave a Comment