Menyerang Usia Muda, Begini Penanganan Kanker Usus Besar Saat Pandemi

by joe han
0 comment

KOMPAS.com – Kanker usus besar atau kanker kolorektal adalah kanker ketiga tertinggi di Indonesia. Berdasarkan studi epidemiologi, pasien kanker kolorektal atau kanker usus besar di Indonesia ini kerap terjadi pada mereka yang berusia lebih muda. Lebih dari 30 persen kasus terjadi pada pasien dengan usia 40 tahun atau lebih muda dari itu.

Hal ini mengkhawatirkan dan akan menjadi masalah serius di Indonesia, karena diperkirakan akan semakin banyak kasus kanker kolorektal khususnya pada pasien usia produktif.

Apalagi, jika pasien tidak menyadari dan terlambat melakukan deteksi dini, maka kanker kolorektal akan menjadi agresif dan menyebar atau metastatik dengan cepat ke organ lainnya.

Sehingga, angka harapan hidup menjadi rendah, terlepas dari terapi yang diberikan.

Oleh sebab itu, dalam acara Instagram live edukasi yang digelar oleh Cancer Information Support Center (CISC), dokter spesialis bedah digestif, dr Abdul Hamid Rochanan Sp.B-KBD MKes mengatakan, kunci utama keberhasilan penanganan kanker kolorektal adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini.

Hal ini perlu dilakukan, supaya terapi bedah kuratif dapat dilaksanakan, yang bertujuan untuk mengangkat sumber keganasan.

“Sangat penting untuk mengenali gejala dan faktor risiko kanker, serta melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis,” kata Hamid dalam saluran digital bertajuk Lika-liku Kanker Kolorektal dalam Masa Pandemi Covid-19-Kenali dan Tangani dengan Tepat, Sabtu (12/9/2020).

Penanganan di tengah pandemi Covid-19

Hamid berkata, meski masih berada di masa pandemi Covid-19 , tidak lantas membuat akses penanganan dan deteksi dini kanker kolorektal menjadi teralihkan.

“Meski di masa pandemi Covid-19, bukan berarti kita melakukan skrining, diagnosis dan terapi yang sub-standar. Pasien memiliki hak untuk mendapatkan terapi yang benar,” ujarnya.

Hamid juga menegaskan, meski ada beberapa protokol yang harus disesuaikan dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, jika kondisi pasien memang menunjukkan indikasi perlu adanya penanganan dengan kontak secara fisik, sebaiknya tetap dilakukan.

“Kita tidak bisa hanya menanyakan keluhannya. Kalau memang ada keluhan, misalnya BAB (buang air besar) berdarah, dan harus colok dubur (untuk mendeteksi kanker), maka harus colok dubur. Untuk diagnostik harus ditindak,” tegas Hamid.

Begitu juga dengan terapi yang harusnya dijalani oleh pasien. Menurut Hamid, tidak bisa hanya melihat stadium pasien untuk menentukan perlu atau tidaknya terapi. Melainkan, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Terapi tidak bisa diberlakukan sama, apalagi harus menunggu pandemi Covid-19 selesai.

Sebab, tidak ada yang mengetahui secara pasti dan jelas kapan pandemi Covid-19 ini akan berakir. Sementara, kanker yang ‘bergeriliya’ di dalam tubuh akan terus berkembang, yang mana mengancam kesehatan dan jiwa pasien. “Penundaan terapi jika tidak berpengaruh terhadap kondisi pasien, maka bisa ditunda. Tapi jika penundaan bisa berpengaruh (penyebaran kanker atau gangguan organ lain yang mengancam), maka harus dilakukan terapi segera,” jelasnya.

Penanganan kanker kolorektarl yang berkelanjutan yang optimal juga tetap perlu dilakukan. Di Indonesia, terapi untuk kanker kolorektal ini sudah banyak tersedia, termasuk terapi target yang menyasar pada kanker kolorektal dengan jenis tertentu yang menyerang tubuh.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menyerang Usia Muda, Begini Penanganan Kanker Usus Besar Saat Pandemi”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/12/200500023/menyerang-usia-muda-begini-penanganan-kanker-usus-besar-saat-pandemi?page=all#page2.
Penulis : Ellyvon Pranita
Editor : Bestari Kumala Dewi

You may also like

Leave a Comment